Patah Hati Terhebat dalam Hidup

Bicara tentang patah hati, pasti semua orang pernah mengalami hal ini dalam hidupnya. Dan bagaimana pun, patah hati pasti rasanya nggak enak. Nah, dari banyaknya patah hati yang pernah kita alami ada satu yang dinamakan patah hati terhebat. Istilah patah hati terhebat ini pertama kali aku baca di buku Koala Kumal karya Raditya Dika. Di buku itu menceritakan banyak sekali jenis patah hati yang dialami Bang Dika dan juga orang-orang di sekitarnya.


Beberapa hal yang membuat patah hati biasanya berkaitan dengan asmara. Mulai dari ditolak cintanya, diabaikan orang yang benar-benar kita sayangi, diselingkuhi, atau bahkan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Tapi dari semua hal itu, aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “mana patah hati terhebat dalam hidupku”? Dan jawabnya tidak tak satupun dari hal-hal di atas. Lantas apa?
Tentang kamu, patah hati terhebatku?

Awalnya kukira kehilanganmu adalah patah hati terhebat dalam hidupku. Karena saat kita masih bersama, tak melihatmu saja membuat hariku pilu. Tak mendapat balasan pesan darimu cukup membuat batinku riuh oleh prasangka. Dan bahkan, melihatmu bersedih seolah diri sendiri inilah yang tersakiti. Bukankah aku terlalu tenggelam di dalam dirimu?

Waktu berlalu, dunia masih sama, aku masih sama, hanya yang berubah-ubah perasaanmu. Kala itu aku tak bisa menghubungimu, lantas rasa khawatir membuat marahku liar. Aku pun kesetanan dan mengirim semua pesan yang menunjukkan aku bakal kuat tanpamu. Tapi semakin lama, kamu pasti tahu kalau pesan-pesanku itu lebih terdengar putus asa. Putus asa karena entah sehari atau dua hari ini kamu benar-benar menghilang dari hidupku. Tanpa alasan, tanpa aku tahu apa-apa.

Lantas sore itu tiba-tiba kamu datang dengan wajah linglung dan pucat. Kau diam, tanpa sepatah kata pun yang keluar. Aku pun putus asa, dan tiba-tiba kau bilang sebaiknya kita tak usah lagi berjumpa. Aku lupa apa yang aku lakukan kala itu hingga bisa membuat kamu mengaku. “Om ku meninggal, orang yang membantu aku dan kakak-kakakku kuliah. Dia meninggal, dan aku tidak bisa apa-apa”.

Aku tahu itu membuat hidupmu tak mudah. Hatimu sakit dan merasa ditimpa bencana. Bencana yang mungkin karena dosa yang kamu lakukan. Karenanya kamu tiba-tiba merasa dengan kita bersama maka kamu terus mengukir dosa. Ya, itu memang dosa. Berpacaran apapun jenisnya memang tetap berdosa. Meski jarang kita bertemu, jarang bersama, tetap saja itu tak boleh dalam agama kita.

Menyadari hal ini kita berdua biasa menjaga jarak, jauh sekali. Untuk kemudian keadaan mengembalikan semua seperti sedia kala. Kamu butuh melihatku, dan aku pun begitu. Kata pisah yang kamu ucapkan nyatanya karena kesedihanmu, dan bukan karena hatimu yang benar-benar pergi. Buktinya tiap kali kita saling marah, ada saja cara untuk kita tetap bersama kembali. Tapi, hal ini yang aku sesali. Kenapa kita berkeras bersama dalam dosa? Kenapa tak lebih cepat untuk tersadar dan berpisah? Atau kenapa tak segera saja bersatu dalam ikatan suci. Ah, aku tahu itu juga tak mungkin kala itu.

Waktu bergulir, kita dalam siklus yang sama. Kamu pun sama berubah-ubahnya. Saat putus asa, bersedih, dan merasa diri tak berdaya, kamu selalu menyendiri. Menceritakan masalah dengan begitu abstrak. Kau bilang dirimu tak seberuntung orang lain, dirimu selalu dicoba Tuhan. Katamu, kau tak pantas untukku. Padahal di belakang sana, aku tahu orang-orang mengatakan wajahku yang minus inilah yang tak cukup cantik untukmu. Saat seperti ini, aku tahu kamu ingin menyerah, tapi aku terlanjur tak bisa berpisah. Dan kamu merestuinya.

Sampai waktu benar-benar bergulir jauh, dan aku harus pergi jauh meski sesungguhnya tak mau. Kau tahu aku, aku pencemburu yang membayangkan banyak hal ketika kita berdua jauh. Bukan tanpa alasan, sebab ku bilang tadi aku memang berwajah minus, sedang engkau bahkan beberapa orang menyebutmu mirip anggota boy band. Aku semakin takut, dan khawatir tiap sms tak kunjung kau balas.

Dan akhirnya pada hari itu, kau putuskan untuk pergi. Aku tak terima, tapi kamu tetap bersikeras. Kau bilang hubungan kita tak direstui Tuhan. Dan aku pun tak bisa apa-apa. Hanya menangis sejadi-jadinya di kamar ruang tengah rumahku. Saat ayah ibuku bertanya, kukatakan gigiku sangat sakit karenanya aku menangis. Jadilah ayah, ibu, bahkan nenek menungguiku yang menangis terseduh.

Aku pun harus ikhlas menelan pil pahit obat sakit gigi agar sempurna mengelabui mereka. Tahukah kamu, keluargaku tak pernah melihat putrinya menangis. Dan parahnya, orang yang membuatnya menangis kini adalah orang yang paling dicintainya.

Setelah kejadian itu, hari demi hari kuhabiskan untuk tak menyerah tapi memohon untukmu kembali. Sampai aku tahu, kamu adalah si keras Taurus yang lebih mementingkan harga diri ketimbang perasaanmu sendiri. Sampai satu alasan yang membuatku faham dan memaklumi keputusanmu. Katamu, kau ingin bertaubat, hijrah, dan ingin fokus beribadah di bulan Ramadhan kala itu. Maka saat itu juga, aku tak bisa lagi merengek memintamu kembali.

Waktu berlalu dan aku berusaha melakukan banyak hal untuk mengusir bayanganmu. Aku tahu aku akan mampu melakukan apapun dan kuputuskan untuk pergi jauh. Mengusir diri sendiri ke tanah rantau yang jauh, berharap lebih mudah melupakanmu. Sayangnya, tepat sebelum kepergianku kau malah datang. Entah sebagai teman atau apa, aku tak tahu. Yang jelas kau datang dan membuatku sedikit berharap. Harapan yang kemudian harus patah hancur dan meledakkan semua hatiku.

Dari tempat yang jauh itu, aku melihatmu bersama wanita lain. Aku tentu kecewa, sebab katamu dulu kau ingin berpisah karena mau hijrah. Tak mau lagi berpacaran. Kala itu aku tak tinggal diam dan berkeras menelponmu. Nyatanya jelas terdengar di telingaku kau bilang kau menyayangi kekasihmu, alasan kau meninggalkanku.

Aku pikir hubungan kita dulu kuat, perjuanganmu dan pengorbananmu tak cukup mudah digantikan cinta yang lain. Kala itu aku masih mencintaimu dengan kuatnya. Dan seperti kata orang, ditinggalkan ketika masih teramat sayang dan tak bisa melupakan, itulah patah hati terhebat. Kala itu, kupikir kau adalah patah hati terhebat. Yang membuatku menangis berbulan-bulan, membuatku tak mampu untuk sekedar mengunyah makanan, membuatku hanya bisa tertidur sebab lelah telah membaca lembaran-lembaran Al-quran. Sambil menyesali kebodohanku mengingkari Tuhan. Tapi kini kusadari, kau bukanlah patah hati terhebat itu.

Inilah patah hati terhebatku
Dulu saat kau bertindak curang padaku, aku nyaris mendoakanmu agar mati saja. Sebab kupikir, kau tak akan pernah merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Karenanya, aku ingin kau mati saja. Tapi kemudian aku banyak berpikir tentang kematian. Apabila kau benar-benar mati, maka aku tak bisa lagi sekedar mencaci atau menghinamu atas segala sakit hatiku. Aku tak bisa lagi meminta maaf atas segala salahku yang kadang justru tak kutahu. Aku bahkan tak bisa lagi sekedar melihat fotomu diam-diam ketika rindu. Aku tak bisa lagi sekedar melihatmu di sana dan berkata, oh itu mantanku bersama pacar barunya.

Aku pernah kehilangan kakekku. Ia meninggal saat malam ke-27 bulan Ramadhan. Sorenya beliau masih sehat dan bahkan memintaku memijitnya. Dengan nakalnya aku menolak bahkan lari untuk menghindarinya. Tanpa tahu, malam harinya ketika aku membangunkan untuk sahur, dia sudah tidak ada. Tidak ada untuk selama-lamanya. Kala itu aku hanya bisa terdiam kaku tak bersuara, penyesalan membuat tubuhku berat.

Kenapa aku tidak memijitnya saja? Padahal biasanya akulah si penurut itu. Terlebih kakekku adalah orang yang paling baik kepadaku. Saat di jalan pulang dari bekerja dan dia mendapati makanan kesukaanku, meski letih ia tetap bergegas ke rumahku untuk memberikannya padaku. Ia, kakek yang diam-diam menyimpan sebagian uang dari istrinya untuk diberikan padaku. Ia, yang selalu mengatakan ingin membelikanku gaun bagus agar aku terlihat cantik. Mengingat semua itu, aku bahkan tidak bisa menangis.

Kehampaan hati karena ditinggalkan orang yang kita cintai selama-lamanya, itu jauh lebih sakit dari patah hati karena cinta manapun termasuk cintamu.  Cinta pada seseorang masih bisa ditumbuhkan lagi, masih bisa dicari lagi penggantinya. Tapi sebab kematian, bagaimana pun caranya kita tidak bisa berjumpa kembali. Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Hanya bisa berdoa dan memberikan hadiah amalan-amalan baik agar sampai kebaikannya pada mereka.

Hari ini, aku pun merasa saat kematian pamanmu dulu, kau merasakan patah hati terhebat. Karenanya, cintamu padaku dikalahkan rasa sakit hingga kala itu kamu ingin pisah. Dan hari ini, adik kesayanganmu pergi karena leukemia, tentu patah hati terhebat untuk kesekian kalinya kamu rasakan. Kini, aku pun bisa merasakannya juga.

Pada akhirnya, kehilanganmu memang membuatku terluka, tapi jauh lebih menyakitkan ketika melihat keluarga yang kita cintai berpulang kepada-Nya. Karena itu kau harus tabah, harus pula hidup dengan kuatnya. Agar aku bisa melihatmu bahagia. Meski terluka, aku tetap mengingini kau bahagia.  
Bagi siapapun yang kini ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang yang dicintai, maka doakanlah mereka. Kuatkan hatimu dengan merapatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan. Semoga, dengan cobaan tersebut kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan diri ini menjadi sosok yang lebih baik. Sosok yang tidak egois dan mencintai keluarga kita dengan baik. Selama waktu itu masih ada dan belum diambil oleh-Nya.



Comments

  1. setiap orang pernah mengalami patah hati. aku juga. berulang kali pula. patah hati bukan hanya tentang asmara yang haru-biru, tapi bisa jadi patah hati adalah saat kita tak bisa semakin dekat pada-Nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mbak Helmi, semoga kita termasuk golongan yang selalu mendekatkan diri dengan Tuhan ya

      Delete
  2. Replies
    1. Hehe... masa muda mbak Inda gimana yak..

      Delete
  3. Patah hati adalah salah satu pelajaran paling berharga dalam hidup, lho. Hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar. Tunggu kunjungan balik saya ke Blog teman-teman :)