Yang Dulu Pernah Begitu Berharga

Aku menulis ini sambil sesekali memakan es krim yang ada di meja kerjaku. Ya benar, sekedar berjaga-jaga kalau tetiba ada rasa pahit yang tiba-tiba muncul. Bukankah kedengarannya berlebihan? Memang, untuk beberapa hal aku sepertinya terlalu perasa.


Kali ini aku akan membahas benda-benda yang dulunya bagiku berharga. Bukan karena harganya mahal, namun sebab keberadaannya yang entah mengapa menduduki posisi cukup istimewa saat dulu. Meski istimewa, karena suatu hal aku harus menguncinya rapat-rapat di dalam lemari.

Aku menemukan lagi benda-benda itu saat membongkar isi lemari setelah pindah dari luar kota dan kembali ke rumah. Karena nampak penuh, sebagian benda-benda lama di dalam lemari harus kupaksa pergi. Agar benda-benda baru yang biasa ku pakai saat ini, bisa menempati ruangan itu.

Entah mengapa, lemari ini bisa kita andaikan seperti hati manusia. Apabila masih penuh dengan kenangan-kenangan lama, tentu tidak bisa diisi dengan kenangan-kenangan baru yang mungkin lebih membahagiakan. Karenanya, bagi kamu yang hatinya masih dipenuhi kenangan-kenangan lama terlebih yang menyakitkan, ada baiknya beranjak mengeluarkannya. Agar hatimu tidak sesak, pun agar kamu bisa mengisinya dengan hal baru yang lebih baik. Aku sedang tidak diposisi menggurui, aku hanya ingin kita bersama-sama lebih berbahagia. Bersemangatlah kawan.

Nah, kembali ke topik awal. Aku, hingga beberapa saat lalu masih membiarkan benda-benda itu berserakan di sekitarku. Aku biarkan mereka mengusik. Bagaimana mereka bisa mengusik? Ya, sebab benda-benda itu terkadang mendatangkan kenangan masa lalu. Kenangan yang sama saat benda itu bersama kita, bersama orang yang mungkin berharga bagi kita di masa itu. Dan seringkali, benda-benda itu tak ubahnya pisau tajam yang mengiris-iris hati bersenjatakan kenangan.


Kali ini, aku berniat dengan segenap kesungguhan hati untuk tidak membiarkan mereka berserakan lagi. Meski belum mampu meniadakan, setidaknya aku menyimpannya dalam satu tempat. Jika saatnya nanti tiba, mungkin aku akan memiliki keberanian untuk benar-benar sempurna menjadikannya tak berarti.

Apa ini terdengar kejam? Ah, aku pikir tidak. Sebab dulunya, sekuat tenaga aku telah berusaha memperjuangkan keberadaannya. Sampai-sampai, rasa-rasa aku membiarkan diriku sedikit tidak berharga. Dan kini, aku memilih untuk lebih mencintai diriku sendiri. Ya, betapapun kamu mencintai sesuatu, dirimu sendirilah yang paling berharga. Jangan sekali-kali melakukan hal-hal yang membuatmu menjadi tak berharga.

Nah, aku akan memulai menceritakan benda-benda yang dulunya pernah begitu berharga.

Sesungguhnya, aku tidak tahu apa nama benda ini. Dulunya, kedua benda itu memiliki air di dalamnya. Hanya, seiring waktu berlalu, satu mainan berbentuk bohlam tiba-tiba kehilangan airnya. Kalian pasti bertanya-tanya apa pentingnya benda macam ini? Saat dulu memilikinya, aku meletakkannya di meja belajar kamar kos. Saat pulang kuliah atau di tengah mengerjakan tugas, aku suka memainkan bentuk bohlam itu. Menggerak-gerakkannya dan melihat glitter dalam air yang bergerak ke atas ke bawah. Memang sangat tidak penting, tapi itu menyenangkan waktu dulu.


Bohlam bertulis Bandung City itulah yang membuatku ingin sekali ke Bandung. Aku ingin melihat di mana tempat si pemberi bohlam membeli benda itu. Aku pun penasaran, apa yang ia pikirkan ketika memutuskan membelikanku benda itu. Aku bertanya-tanya, apa aku satu-satunya yang ia belikan benda itu. Ataukah ada orang-orang lain yang mendapatkan hadiah perjalanan yang sama? Apakah jawabannya penting untukku? Tentu sangat tidak penting baginya.

Lanjut benda kedua, ada boneka kelinci memegang wortel. Terkadang saat melihat benda ini, aku tiba-tiba kembali pada kenangan ujian semester saat kuliah. Baju hitam putih itu, dan senyum receh yang cenderung kekanak-kanakan. Saat itu, 14 Januari di tahun kebahagiaan entah berapa tahun yang lalu. Yang kemudian mau tidak mau mengingatkan pada 14 Januari di tahun-tahun berikutnya yang hampr selalu aku campakkan. Tepatnya, aku tidak pernah mau mengingat tanggal itu.

Bersyukur, tahun ini adalah tahun mencintai diri sendiri. Karenanya, meski tak ada yang memberiku ucapan selamat di 14 Januari, atau boneka kelinci, aku membahagiakan diriku sendiri dengan rasa syukur. Rasa syukur bahwa tetap kuat, tetap produktif, dan tetap berusaha yang terbaik meski diliputi berbagai perasaan yang mungkin pahit.

Ketiga, kaos dari Kalimantan. Sama seperti benda pertama, berkat kaos ini aku ingin suatu hari nanti aku bisa menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan. Lebih jauh, kalau Tuhan mengizinkan aku ingin melihat seperti apa kebun kelapa sawit di daerah itu. Sebenarnya, aku punya kerabat yang tinggal di Kalimantan dan belum pernah sekalipun mengunjungi mereka.

Bukan sekedar kaos, aku mengartikan benda ini sebagai wujud dari kerinduanku pada seseorang di masa lalu. Ada masanya dulu, aku harus merelakan seseorang sementara pergi. Aku kira, kali itu adalah terakhir kali aku dan sahabat itu berpisah. Tanpa tahu, ada waktu di mana dia memaksa pergi dan sekalipun tak menoleh kembali.

Ada masanya juga, aku berusaha sekuat tenaga, dengan berbagai cara meminta dia kembali. Sia-sia, kedatanganku rupanya dirasa sebagai penganggu. Dia telah memiliki pengganti yang levelnya adalah langit, sedangkan aku ibaratnya sumur. Sumur dan langit, wah… aku hanya remahan peyek pemirsa. Karenanya aku sama sekali tidak dihiraukannya, hingga kini. Meski begitu, semoga ia selalu bahagia di manapun berada. Menurutmu, apakah dia sekali saja pernah rindu padaku?

Keempat, kaos Solo. Kaos yang membuat siapapun yang memakai jadi terlihat njawani. Bahkan untuk mereka yang bukan orang Jawa asli. Aku lupa banyak hal, yang ku ingat hanya aku suka orang itu dulu memakai kaos-kaos dengan aksen batik Jawa. Meneduhkan, kala itu di masa lalu.


Berikutnya, mukena merah putih. Wah, kalau mengingat mukena ini, pasti mengingat pulau Tagulandang di Sulawesi Utara sana. Berapa banyak air mata yang tumpah sebab menyadari ada yang memaksa pergi? Mengapa masih harus membantu mengirimkan mukena merah itu sedang memilih menjaga yang lain? Apa aku kala itu sangat patut dikasihani? Pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah terjawab hingga kini.

Terakhir, ada boneka lagi. Bedanya, boneka ini menjadi semacam kado perpisahan. Perpisahan yang benar-benar pisah.  Boneka kali ini datang hampir bersamaan dengan jaket hitam, menjadi penutup akhir cerita  yang nampak suram.

Itulah kawan, sebagian benda-benda yang dulunya pernah berharga. Aku menulisnya berharap sesak di hatiku sirna. Berharap dengan membagikan cerita ini, diriku bisa berdamai dengan kenangan lama. Apakah spontan benda-benda itu menjadi tak lagi berharga? Tentu tidak. Setidaknya, aku berusaha mengeluarkannya pelan-pelan dari lemari pun dari hati.

Kepadamu yang kuceritakan dalam tulisan ini, apa kabarmu di sana? Setahuku, kau terliat baik-baik saja. Tapi apalah daya mata yang tak bisa melihat dalamnya hati. Suatu hari, aku sungguh ingin menyusup ke dalam hatimu. Sungguh ingin mengetahui apa yang kau pikirkan sekarang tentang aku, tentang kita di masa lalu dan masa kini.

Terima kasih untuk banyak hal baik yang pernah kita lakukan bersama. Terima kasih untuk membersamai dalam suka dan duka kala itu. Meski pada akhirnya, aku membuat banyak kesalahan yang mungkin membuatmu lelah dan berpaling pada yang lain. Aku, dengan sadar mengakui bahwa diri ini memang  memiliki banyak kekurangan. Dengan segala kerendahan hati, aku meminta maaf telah sengaja atau tak sengaja melukai. Aku pun kini, berusaha untuk tak lagi berkeras mempertahankan rasa ini. Sebab aku tahu, pada akhirnya aku merasa tak berharga dan tak mencintai diri sendiri

Pun jika aku terluka karenamu, aku sudah menerima itu sebagai skenario hidup yang harus aku lalui. Aku tak akan lagi menyalahkanmu untuk apapun. Aku akan berusaha membiarkan semua kenangan menyakitkan pergi dari hati.. Agar sesak tak lagi punya tempat. Agar bahagia lekas bisa datang. Beberapa tahun ini, aku pun bersungguh-sungguh belajar dari caramu mengasingkan aku. Semoga nanti, aku pun dengan ringan hati mampu melakukan hal yang sama kepadamu. Mari kita bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan, meski di jalan yang amat jauh berbeda.

Berbahagialah selalu, berbahagialah. Sungguh.
Aini





Comments